Pagi yang cerah, suara merdu burung-burung yang ada di sekitar rumahku, serta suara seseorang membangunkanku di awal hari ini. "Nina ayo bangun! Nanti kamu telat sekolah loh!" Suara itu terdengar jelas di telingaku. Namaku Sekar Ninasma Mikerin biasa di panggil Nina. Aku suka boneka barbie sampai-sampai di rumahku saja ada puluhan boneka barbie. Aku adalah gamers ya aku memang sangat menyukai game terutama game online gak tau tuh kenapa. "Iya ma! Bentar lagi aku keluar, aku mau mandi dulu!" Balasku kepada ibuku. Akhirnya aku pun keluar dari kamarku menuju ke ruang makan. "Nin, gak sarapan dulu? nanti perut kamu kosong loh." Tanya ayahku sambil memakan roti di meja makan. "Enggak yah, Nina gak laper." Aku langsung buru-buru berangkat sekolah.
Sesampainya di sekolah aku pun langsung menuju ke kelasku dan menghiraukan teman-teman yang memanggilku. DI tempat dudukku aku hanya bisa menghela nafasku. "Nin, kamu udah ngerjain pr belum?" Tanya Rani teman sebangku ku. "Nin, Nina!..." Jerit Rani sambil memukul tanganku. "Iya!" Jawabku kaget. "Kamu kenapa? Kok gak kayak biasanya? Cerita dong! Sahabat kan gak boleh rahasia-rahasiaan, Sahabat itu harus berbagi suka dan duka. Cerita dong kalau kamu banyak masalah kan siapa tahu setelah kamu cerita ke aku perasaan kamu jadi lega." Jelas Rani kepada ku. "Enggak kok Rin, aku gak papa lagi pula aku gak mau ngerepotin kamu Ni." Jelas ku kepada Rani. "Ohh, ya udah kalau kamu gak mau cerita.'' Balas Rani yang tidak jadi mengetahui masalahku. Krrrriiiiiinnnggg Jam Pelajaran pertama di mulai, bunyi suara bel. Hari ini adalah hari tugas piket ku. Aku pun segera pergi ke kamar mandi sambil membawa ember untuk mengambil air untuk mengepel. Setelah mengambil air, aku pun kembali ke kelas. "Adduuuuhhhh! Kalau jalan pake mata dong! Gimana nihhh airnya tumpah semua!" Omelku. Aku tertabrak seorang anak laki-laki di depan pintu kelas. "Ohhh kena ya? Aku gak bawa sapu tangan lagi. Maaf ya," Jawab anak laki-laki itu. "Ihhhh, Tommy! Sampai kapan sihh kamu bakal ngejailin aku terus!" Lanjut omelanku. "Salah siapa tubuhmu itu terlalu pendek! Jadi aku gak lihat kamu dehh!" Ledek Tommy. "Gak tau lahhh! Aku males tau gak ribut terus sama kamu!" Aku pun berlari untuk segera melanjutkan tugas piketku.
Sesampainya di rumah aku pun menelpon Rani untuk datang ke rumahku. "Ada apa Nin?" Tanya Rani. "Maaf ya aku ngerepotin kamu. Ini masalah Tommy." Tanyaku. "Tommy? Dia kenapa?" tanya Rani lanjut. "Dia kayaknya makin nyebelin dehh, sikapnya akhir-akhir ini nyebelin. Waktu itu aku mau ngebersihin papan tulis tiba-tiba kaki aku keram terus Tommy nolongin aku, nah pas aku mau ngomong makasih dia malah ngeledek aku pendek, terus masih banyak kejadian lainnya tapi yang paling parah pas tadi tuhh." Omelku. "Udah lah, mungkin Tommy kayak gitu supaya kamu gak terlalu mikirin perasaan kamu yang sekarang yah agak-agak misterius." Jelasnya. "Sebenarnya kamu punya masalah apa sihh? Kok sifat kamu jadi berubah gitu?" tanya Rani lanjut. "Sebenarnya, waktu aku piket minggu lalu aku gak sengaja mecahin vas bunga kesayangan pak guru yang ada di kelas." Jelasku dengan penyesalan. "Hahh! Kamu mecahin vas bunga kesukaan pak guru! Kamu tau kan vas bunga itu buatan pak guru sendiri, pasti pak guru marah tuhh!"Ucap Rani kaget. "Iya aku tahu. Tapi aku gak sengaja. Aku mohon ya sama kamu jangan bilang siapa-siapa! Lagi pula aku udah mbenerin vasnya kok, udah aku lem! Aku Mohon!" Sesalku. "Iya deh aku gak ngomong ke siapa-siapa." Jawab Rani.
~Keesokan Harinya~ (Di Sekolah)
"Loh kok vas bunga pak guru kayak agak retak sih?" Tanya Mina. Perasaan ku dag dig dug ketakutan. "Tommy tolong bawakan vas bunga itu ke meja pak guru sekarang.'' perintah pak guru kepada Tommy. "Baik pak" Jawab Tommy. Saat Tommy mengambil vas bunga itu tiba-tiba vas itu terjatuh dari tangan Tommy. "Haahh!!" Semua orang di kelas terkejut. "Maaf pak aku mecahin vas bunga bapak nihh.'' Ucap Tommy kepada pak guru. "Tommy!" Jerit pak guru sambil memukul kepala Tommy, kemudian Tommy di marahi habis-habisan oleh pak guru. "Ya Tuhan, aku telah berbuat apa? Harusnya aku yang di pukul dan di marahi pak guru bukannya Tommy." Kataku di dalam hati. "Pak guru! Bukan Tommy yang memecahkan vas bunga itu, tapi aku yang memecahkan vas bunga itu!" Teriak sekaligus pengakuanku kepada pak guru. "Ehh pendek! Ngomong apa sih kamu! Udah jelas-jelas aku yang mecahin, kamu gak usah ikut campur!" Bentak Tommy kepada ku. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menyesali perbuatanku yang seharusnya akibatnya aku tanggung sendiri malah temanku yang menanggung. Tiba-tiba Tommy memukul pundakku sambil menuju ke tempat duduknya. Sepulang sekolah aku mencoba pergi ke ruang guru untuk menjelaskan semuanya. Setelah aku pergi ke ruang guru, aku mencoba untuk mencari Tommy di lapangan sekolah. "Tommy, bisa bicara sebentar gak!" Jeritku memanggil Tommy yang sedang bermain bola. kami berdua pun duduk di bangku taman. ''Maaf tentang vas bunga itu. seharusnya bukan kamu yang di marahi pak guru harusnya aku. Tapi kenapa aku ngerasa kalau kamu waktu itu ngeliat kalau aku mecahin vas bunga itu minggu lalu?'' tanya sekaligus penyesalanku. "Aku gak liat tuh,'' Jawab Tommy bohong, padahal Tommy melihatku memecahkan vas bunga pak guru. "Udah lupain aja, lagi pula aku kok yang salah bukan kamu." jelasnya. "Maaf ya, Tommy aku cuma mau bilang makasih karena kamu selalu nolong aku, sebelumnya kamu gak pernah ngebiarin aku ngomong makasih sama kamu." Jelas ku. Aku pun langsung pergi meninggalkan Tommy di bangku lapangan sekolah. Ternyata pak guru melihat dan mendengar obrolanku dengan Tommy. dan pak guru teringat ucapanku di kantor tadi, pada saat itu aku mengucapkan kata "Pak guru bukan Tommy yang salah tapi aku yang salah!". "Ternyata Tommy baik juga yah." Ucap pak guru dalam hati.