Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Agustus 2014

Sahabat Tak Dianggap

  Pagi yang cerah mengawali hari ini. Aku pun merasa sangat bahagia. Tetapi entah apa yang merasuki hatiku, rasanya hatiku tidak secerah langit di pagi ini. Aku merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal dan yang ingin aku ketahui. Di saat teman-temanku bersenang-senang aku juga ikut senang, tapi hatiku tetap saja berkata lain.
  Pada saat itu, aku melihat seorang temanku yang akan bersiap-siap mengikuti sebuah lomba di sekolah kami. "Hay, Fin! Aku do'ain semoga kelas kita menang ya." dengan bahagianya aku mengucapkan kata-kata itu. Akan tetapi dia tidak merespon sama sekali. Fina tidak seperti biasanya. Fina yang aku kenal adalah orang yang sangat baik kepada ku dan dia adalah anak yang pintar. Dulu, kami sering bermain bersama sejak kelas 4 sd tetapi sejak kami mulai naik ke kelas 7 hubungan kami mulai memudar. Sekarang aku dan Fina sudah kelas 8. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Sungguh aku tidak mengerti sama sekali. 
  Pada saat lomba, aku pun selalu menyemangatinya tanpa terkecuali. Aku selalu memanggil-manggil namanya untuk selalu semangat. "Fina! Ayo Fina! Semangat! Kamu pasti bisa!" begitulah aku menyemangatinya. Dia pun menang lomba. Tapi, pada saat berjalan ke arahku dia sama sekali tidak memandangku. Bahkan ia pura-pura tidak melihatku sama sekali. Apakah aku hanya angin lalu baginya? Apa yang pernah aku lakukan padanya? Kenapa ia membenciku? Apa salahku?. Hal-hal itu selalu aku pikirkan bahkan menjadi sebuah tanda tanya besar di dalam hatiku. Aku sangat kecwa akan hal itu.
  Keesokkan harinya, aku mencoba untuk bicara padanya, :Hai, Fina. Selamat ya atas kemenangan kamu kemarin." ucapku pada Fina. Tetapi ia mengacuhkan aku dan langsung pergi dari hadapanku. "Fina! Apa sih salah aku? Apa? Ngomong dong! Ok, kalau aku punya salah aku minta maaf sama kamu! Apa sih, apa? Aku salah apa sama kamu? Tolong jawab, Fin" "Maaf Din, kamu gak punya salah apa-apa kok sama aku. Kamu itu anak baik, gak pantes main sama aku. Selamat tinggal." katanya dengan tidak ada penyesalan sama sekali."Ya Tuhan, aku salah apa? Kenapa sahabat baikku sendiri sampai bersikap dingin seperti itu." ucap dalam hatiku.  
  

Selasa, 17 Juni 2014

Aku cuma mau bilang



  Pagi yang cerah, suara merdu burung-burung yang ada di sekitar rumahku, serta suara seseorang membangunkanku di awal hari ini. "Nina ayo bangun! Nanti kamu telat sekolah loh!" Suara itu terdengar jelas di telingaku. Namaku Sekar Ninasma Mikerin biasa di panggil Nina. Aku suka boneka barbie sampai-sampai di rumahku saja ada puluhan boneka barbie. Aku adalah gamers ya aku memang sangat menyukai game terutama game online gak tau tuh kenapa. "Iya ma! Bentar lagi aku keluar, aku mau mandi dulu!" Balasku kepada ibuku. Akhirnya aku pun keluar dari kamarku menuju ke ruang makan. "Nin, gak sarapan dulu? nanti perut kamu kosong loh." Tanya ayahku sambil memakan roti di meja makan. "Enggak yah, Nina gak laper." Aku langsung buru-buru berangkat sekolah.
  Sesampainya di sekolah aku pun langsung menuju ke kelasku dan menghiraukan teman-teman yang memanggilku. DI tempat dudukku aku hanya bisa menghela nafasku. "Nin, kamu udah ngerjain pr belum?" Tanya Rani teman sebangku ku. "Nin, Nina!..." Jerit Rani sambil memukul tanganku. "Iya!" Jawabku kaget. "Kamu kenapa? Kok gak kayak biasanya? Cerita dong! Sahabat kan gak boleh rahasia-rahasiaan, Sahabat itu harus berbagi suka dan duka. Cerita dong kalau kamu banyak masalah kan siapa tahu setelah kamu cerita ke aku perasaan kamu jadi lega." Jelas Rani kepada ku. "Enggak kok Rin, aku gak papa lagi pula aku gak mau ngerepotin kamu Ni." Jelas ku kepada Rani. "Ohh, ya udah kalau kamu gak mau cerita.'' Balas Rani yang tidak jadi mengetahui masalahku. Krrrriiiiiinnnggg Jam Pelajaran pertama di mulai, bunyi suara bel. Hari ini adalah hari tugas piket ku. Aku pun segera pergi ke kamar mandi sambil membawa ember untuk mengambil air untuk mengepel. Setelah mengambil air, aku pun kembali ke kelas. "Adduuuuhhhh! Kalau jalan pake mata dong! Gimana nihhh airnya tumpah semua!" Omelku. Aku tertabrak seorang anak laki-laki di depan pintu kelas. "Ohhh kena ya? Aku gak bawa sapu tangan lagi. Maaf ya," Jawab anak laki-laki itu. "Ihhhh, Tommy! Sampai kapan sihh kamu bakal ngejailin aku terus!" Lanjut omelanku. "Salah siapa tubuhmu itu terlalu pendek! Jadi aku gak lihat kamu dehh!" Ledek Tommy. "Gak tau lahhh! Aku males tau gak ribut terus sama kamu!" Aku pun berlari untuk segera melanjutkan tugas piketku.
  Sesampainya di rumah aku pun menelpon Rani untuk datang ke rumahku. "Ada apa Nin?" Tanya Rani. "Maaf ya aku ngerepotin kamu. Ini masalah Tommy." Tanyaku. "Tommy? Dia kenapa?" tanya Rani lanjut. "Dia kayaknya makin nyebelin dehh, sikapnya akhir-akhir ini nyebelin. Waktu itu aku mau ngebersihin papan tulis tiba-tiba kaki aku keram terus Tommy nolongin aku, nah pas aku mau ngomong makasih dia malah ngeledek aku pendek, terus masih banyak kejadian lainnya tapi yang paling parah pas tadi tuhh." Omelku. "Udah lah, mungkin Tommy kayak gitu supaya kamu gak terlalu mikirin perasaan kamu yang sekarang yah agak-agak misterius." Jelasnya. "Sebenarnya kamu punya masalah apa sihh? Kok sifat kamu jadi berubah gitu?" tanya Rani lanjut. "Sebenarnya, waktu aku piket minggu lalu aku gak sengaja mecahin vas bunga kesayangan pak guru yang ada di kelas." Jelasku dengan penyesalan. "Hahh! Kamu mecahin vas bunga kesukaan pak guru! Kamu tau kan vas bunga itu buatan pak guru sendiri, pasti pak guru marah tuhh!"Ucap Rani kaget. "Iya aku tahu. Tapi aku gak sengaja. Aku mohon ya sama kamu jangan bilang siapa-siapa! Lagi pula aku udah mbenerin vasnya kok, udah aku lem! Aku Mohon!" Sesalku. "Iya deh aku gak ngomong ke siapa-siapa." Jawab Rani.
~Keesokan Harinya~ (Di Sekolah)
    "Loh kok vas bunga pak guru kayak agak retak sih?" Tanya Mina. Perasaan ku dag dig dug ketakutan. "Tommy tolong bawakan vas bunga itu ke meja pak guru sekarang.'' perintah pak guru kepada Tommy. "Baik pak" Jawab Tommy. Saat Tommy mengambil vas bunga itu tiba-tiba vas itu terjatuh dari tangan Tommy. "Haahh!!" Semua orang di kelas terkejut. "Maaf pak aku mecahin vas bunga bapak nihh.'' Ucap Tommy kepada pak guru. "Tommy!" Jerit pak guru sambil memukul kepala Tommy, kemudian Tommy di marahi habis-habisan oleh pak guru. "Ya Tuhan, aku telah berbuat apa? Harusnya aku yang di pukul dan di marahi pak guru bukannya Tommy." Kataku di dalam hati. "Pak guru! Bukan Tommy yang memecahkan vas bunga itu, tapi aku yang memecahkan vas bunga itu!" Teriak sekaligus pengakuanku kepada pak guru. "Ehh pendek! Ngomong apa sih kamu! Udah jelas-jelas aku yang mecahin, kamu gak usah ikut campur!" Bentak Tommy kepada ku. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menyesali perbuatanku yang seharusnya akibatnya aku tanggung sendiri malah temanku yang menanggung. Tiba-tiba Tommy memukul pundakku sambil menuju ke tempat duduknya. Sepulang sekolah aku mencoba pergi ke ruang guru untuk menjelaskan semuanya. Setelah aku pergi ke ruang guru, aku mencoba untuk mencari Tommy di lapangan sekolah. "Tommy, bisa bicara sebentar gak!" Jeritku memanggil Tommy yang sedang bermain bola. kami berdua pun duduk di bangku taman. ''Maaf tentang vas bunga itu. seharusnya bukan kamu yang di marahi pak guru harusnya aku. Tapi kenapa aku ngerasa kalau kamu waktu itu ngeliat kalau aku mecahin vas bunga itu minggu lalu?'' tanya sekaligus penyesalanku. "Aku gak liat tuh,'' Jawab Tommy bohong, padahal Tommy melihatku memecahkan vas bunga pak guru. "Udah lupain aja, lagi pula aku kok yang salah bukan kamu." jelasnya. "Maaf ya, Tommy aku cuma mau bilang makasih karena kamu selalu nolong aku, sebelumnya kamu gak pernah ngebiarin aku ngomong makasih sama kamu." Jelas ku. Aku pun langsung pergi meninggalkan Tommy di bangku lapangan sekolah. Ternyata pak guru melihat dan mendengar obrolanku dengan Tommy. dan pak guru teringat ucapanku di kantor tadi, pada saat itu aku mengucapkan kata "Pak guru bukan Tommy yang salah tapi aku yang salah!". "Ternyata Tommy baik juga yah." Ucap pak guru dalam hati.

~*SELESAI*~

Rabu, 28 Mei 2014

My Imagine Life




  Sasha Malidya Narjesfa bisa dipanggil Esfa adalah anak dari keluarga yang kaya raya tetapi kedua orang tua jarang sekali ada di rumah karena sibuk keluar negeri dengan alasan pekerjaan. Pada saat kedua orang tua Esfa pergi ia selalu di tinggal di rumah bersama Kak Jessie dan Bi Mira atau jika bisa Eyang Nani juga ikut menemaninya. Orang-orang sering bilang Esfa adalah anak yang baik hati tapi kadang egois, pintar, agak sombong terhadap hal tertentu, cantik, dan selalu punya segala-galanya dan juga mereka suka menjulukinya "Princess of the world of dreams" karena hidupku yang selalu di mimpikan orang lain.
  Hari ini adalah hari di mana aku berangkat sekolah setelah liburan panjang akhir semester. "Esfa!!" Jerit seorang teman akrabku. "Hay semuanya!" Jawabku sambil berlari. "Eshitz kami kangen loh sama kamu! Kan Geng kita udah lama gak ketemu!" Kata Maudy. Iya aku adalah salah satu anggota yang bisa dibilang aku adalah ketua dari Geng CuPi {Cute Pink} yang terdiri dari Esfa, Maudy, dan Lisa. Mereka adalah teman yang sangat akrab. Mereka memiliki nama panggilan khusus di Geng Mereka yaitu Eshitz, Mauhitz, dan Lishitz. "Hello Girls!" Teriakku pada mereka. "kriiiingggg...kriiiiinngggg" Bel sekolah pun berbunyi tidak sempat mereka berbincang-bincang kami pun langsung masuk ke kelas. Sepulang sekolah mereka pun kembali berbincang-bincang. "Girls, lihat deh gelang gue! Beru beli lohh di Paris dibeliin sama mami gue." Pamer Maudy. "Hello! Mauhitz, gelang loe itu belum ada apa-apanya sama sepatu gue!" Sambar Lisa. "Girls! kok pada ribut sih! Kita kan temen masa ribut-ribut terus sih! Lama-lama gue bosen sama kalian!" Balas Esfa sambil mengomel dan kemudian pergi meninggalkan Maudy dan Lisa. "Eshitz kenapa sih?" Tanya Maudy kepada Lisa. "Entah, mana saya tau." Jawab Lisa kebingungan.
  Setelah pergi jauh dari Maudy dan Lisa, Esfa sampai di taman yang indah dan duduk di bangku seorang diri sambil merenungi hidupnya. "Ya Tuhan, aku bingung kenapa sih hidup aku gak pernah tenang aku pengin banget punya keluarga yang selalu ada sama-sama dan punya temen yang selalu mengerti aku." Do'a Esfa di dalam hati. Tiba-tiba ada seorang wanita yang menggunakan kursi roda datang menghampiri Esfa. "Kalau kakak boleh tau, adik ini kenapa?" Tanya sang wanita. "Kakak ini siapa?" Tanya Esfa. "Ohh iya maaf kakak lupa ngenalin kakak. Nama kakak Aulia panggil aja kak Aya. Adik ini kenapa?" Tanya kak Aya lanjut. "Uhhmmm, nama aku Esfa kak. Gak lagi ngapa-ngapain kok kak." Jawab Esfa gugup. "Kamu gak usah bohong deh sama kakak. Kak Aya tau kok kamu pasti lagi mikirin sesuatu kan?" Tanyanya penasaran. "Kok Kak Aya tau sih?" Tanya Esfa penasaran. "Kadang dunia ini rasanya gak adil kan? Kakak juga pernah ngerasa hal yang sama kayak kamu. Kakak pernah berfikir kenapa hanya kakak saja yang menjadi yaa seperti ini, gak bisa jalan dan kemana-mana harus memakai kursi roda." Curhat Kak Aya. "Kak Aya harus pakai kursi roda? Kenapa Kak?"Sambung Esfa. "3 tahun lalu, kakak jalan-jalan sama temen-temen kakak lalu ternyata mobil yang kami kendarain kecelakaan. Semuanya selamat tapi hanya kakak yang menjadi seperti ini. Semenjak itu temen-temen kakak menghindar dari kakak dan kakak juga terkesan ngejauhin mereka karena kakak gak mau mereka repot karena kakak. Dan yang paling kakak benci adalah pada setelah kecelakaan bunda kakak gak ada di sisi kakak. Sebenarnya kenyataan emang gak selalu seperti apa yang kita inginkan."Jelas Kak Aya. "Dalam situasi kayak gitu kenapa bunda kak Aya gak ada di samping kakak?" Tanya Esfa sebal. "Kakak juga sempat benci sama bunda. Kenapa semenjak ayah kakak meninggal, bunda malah kayak gitu selalu gak ada di rumah demi nyari kekayaan. Padahal harta kan cuma hiasan hidup semata dan kejujuran keikhlasan itu yang utama. Kalau kakak bisa milih kakak pasti milih punya orang tua yang sayang kepada kakak." Jawabnya. "Aku seharsnya sadar mungkin bunda kakak kerja juga buat nyenengin kakak juga tapi kakak lebih seneng kalau dia ada di rumah." Lanjut kak Aya. Sambil merenung Esfa berfikir "Ya Tuhan, aku selalu mikir kalau aku punya orang tua yang nyebelin tapi sekarang aku sadar mama dan papa kerja buat aku tapi aku lebih senang kalau mereka ada di rumah.". "Terima kasih ya..." Kata-katanya terputus saat ia menoleh dan ternyata Kak Aya tidak ada lagi sampingnya.
  Esfa pun berlari menuju rumahnya dan sangat ingin melepas rasa rindunya. Ternyata di rumah orang tuanya sudah siap-siap untuk pergi. "Papa! Mama!" Jerit Esfa sambil memeluk ayah dan Ibunya. "Esfa kamu kenapa sih? Mama sama papa kan harus pergi ke Australi." Jelas mama kepada Esfa. "Mama Papa bisa gak mama sama papa ngambil cuti? Kita di rumah atau jalan-jalan kan kita udah lama gak jalan bareng! Esfa lebih suka kalau mama sama papa bisa nemenin Esfa." pinta Esfa. Beberapa waktu ayah dan ibunya berfikir. Akhirnya merekapun menyetujui permintaan Esfa. Dan sampai sekarang mereka semua hidup bahagia karena dapat merasakan arti sebuah keluarga besar. Ayah dan Ibunya sekarang tidak sering keluar negeri untuk bekerja dan memilih mengambil cuti selama 1 minggu dalam satu bulannya. Esfa pun sangatlah merasa bahagia.

~#The End#~

Senin, 12 Mei 2014

Loh kok Aku lagi sih yang kena?!

   
   Pada suatu hari, pada saat keadaan ruang kelas 7Z di SMP Bunga Raflesia 1001 nampak sepi sunyi, terlihat seorang gadis sedang duduk di bangku yang ada di pojok kanan belakang sedang duduk dengan rambut panjangnya yang terurai, baju putihnya, dan wajah pucatnya itu sedang membaca buku. Ternyata gadis itu adalah Nana, hari ini Nana ada ulangan jadi dia berangkat sekolah lebih awal. Tapi kok rambutnya gitu ya? Terus bajunya kok putih? Rambutnya emang panjang terurai karena sanking pengin cepet nyampe sekolah dia lupa sisir rambutnya dan ia pake baju putih karena hari inikan hari senin :p. Jam pun telah menunjukkan pukul 7 pagi. Teman-teman Nana pun berdatangan satu persatu, hingga kelas terlihat ramai layaknya kelas seperti biasanya. Pada saat jam istirahat setelah ulangan, Nana mengajak teman-temannya untuk pergi ke kantin sekolah. "Han ke kantin yuk?!" ajak Nana. "Uhhhhmm.., semuanya yuk kita ke kantin!" Ajak Hanna sambil menghiraukan Nana. Nana yang terlihat kecewa karena ia dikacangin (dicuekin) teman-temanya. Didalam hati Nana berkata "Mereka kenapa sih kok sikapnya gitu sama aku? Apa ada yang salah ya sama aku? Apa dandanan aku?" pikir Nana. "Yuk, Han!" Jawab Wiwin, Angel, Lucy, dan Bonnie. Hanna pun  pergi bersama Wiwin, Angel, Lucy, dan Bonnie dan langsung pergi meninggalkan Nana sendirian. Mereka semua adalah teman baik Nana. 
    Dengan perasaan sedih ia kembali ke tempat duduknya. Tak terasa waktu jam istirahat telah berakhir. Wiwin, Angel, Hanna, Bonnie, dan Lucy pun terlihat aneh. "Ehhhmmm, Maya temenin aku ke kamar mandi yuk! Udah kebelet nih!" Ajak Nana. "Pergi aja sendiri! Kan lagi pelajaran! Kalau nilai ulangan aku jelek gara-gara ketinggalan pelajaran gimana? Kamu yang tanggung jawab!" Jawab Maya. Nana pun menjadi bingung dengan sikap Maya, tidak seperti biasanya Maya seperti itu. "Kok Maya gitu yah? Aku jadi bingung. Biasanya dia baik sama aku tapi kok malah jutek gini sih?" Pikir Nana. Saat pulang sekolah Nana hanya berjalan sendiri karena ia takut teman-temannya akan tambah jutek kepadanya. 
   Sesampainya di rumah ia masih terus berfikir dan terus berfikir sampai kepalanya mau pecah. "Ihhhh, nyebelin banget sihh mereka!" katanya sebal. Keesokan harinya, ia berangkat sekolah dengan keadaan murung. Tiba-tiba ada seorang murid yang meminta pertolongan kepadanya. "Tolong!Tolong!" ucap murid itu. "Iya tolong apa!?" tanya Nana panik. "Itu,itu.." Lanjut anak itu. "Itu itu apa! ngomongnya yang jelas dong!" Jawab Nana yang semakin penasaran. "Hanna, Hanna..!" Anak itu semakin panik. "Hanna kenapa?" Tanya Nana yang semakin penasaran sekaligus khawatir. "Terjatuh sampai hidungnya berdarah! Sekarang Ia pingsan di kelas!" Jelas si murid. Dengan perasaan kaget Nana langsung berlari ke kelas dengan hati yang sangat khawatir. 
   Saat terlihat Hanna yang tergeletak tak berdaya di kelasnya, Nana menangis dan berlari menuju kerumunan yang ada di sekitar Hanna. "Hanna! Hanna!" Jeritnya. Sambil memeluk Hanna Ia berkata " Aku minta maaf kalau aku punya salah sama kamu Han! Aku gak tau aku punya salah apa sama kamu sampai kamu jadi jutek pake be ge te sama aku! Bangun dong Han! Ini semua gak lucu!". Hanna dan Nana adalah sahabat dari kecil, mereka selalu bersama dari kecil sampai sekarang. Tiba-tiba, Maya datang ke arah Nana dan Hanna sambil membawa kue ulang tahun kesukaan Nana. "Happy Birthday Nana!" Ucap Maya. Semua yang ada di sana menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Nana dengan bahagia. Nana mulai berdiri dengan bingung dan berkata "Ini ada acara apa sih?". " Yah acara apa lagi lah kalau bukan Ultah-nya kamu!" Ucap Hanna. " Hanna! Kamu gak apa-apa?!" tanya Nana. " Iya, aku gak papa kok. Sorry ya kalau misalnya aku dan temen-temen bikin kamu sedih dan terkucilkan kemarin. Hehehe, maaf juga ya buat yang tadi aku pura-pura pingsan." Jelas Hanna sambil meminta maaf. " Kok aku kena lagi sih! Apa kalian gak kasihan sama aku! Kalian kan udah ngerjain aku tahun kemarin! Apa kalian masih belum puas tahun kemarin!?" Nana emosi dan sambil terharunya ia sampai menangis.
   " Jangan nangis dong Na, kami minta maaf sebenernya kami cuma bikin surprise buat kamu supaya kamu seneng. Lagian kamu gak pernah mikirin haru Ultah kamu sih!" Jawab Wiwin. " Ya tapi kan gak gitu caranya!" Lanjut Nana. " Iya, iya deh aku, Wiwin, Bonnie, Hanna, Maya sama Lucy minta maaf deh." Mohon Angel. " Huuuuuaaaaa kalian jahat sama aku. Sakit hati Nana ahh Perih hati Nana ahh!" Tangis Nana semakin keras. " Duhh jangan sedih dong Na, kita kan udah minta maaf. Lagian kita bikin surprise ini untuk kamu biar kamu seneng walaupun awal-awalnya agak bikin nyesek sih. Tapi, bukan cuma Angel, Hanna, Wiwin, Bonnie dan aku aja lohh yang ngerjain kamu, temen-temen sekelas juga ikut mbantu kami!" Jelas Lucy. " Hah! Ya udah deh gak papa. Makasih ya udah capek-capek bikin surprise buat aku. Ngomong-ngomong nihh surprise boleh juga yah, makasih ya semuanya!" Ucap Nana dengan bahagia. " Sama-sama Nana!" Semuanya menjawab dengan kompak. 
  Akhirnya mereka semua bersenang-senang dengan pesta Nana dan Nana pun bahagia karena masih ada teman-teman yang baik dan selalu memperhatikannya.


~The End~

Senin, 05 Mei 2014

I Won't Give Up ~ Jason Mraz



Hai semuanya! Kali ini saya akan berbagi tentang salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Jason Mraz. Siapa siihh yang gak tau Jason Mraz? Dia adalah seorang musisi yang sangat terkenal dan lagu-lagunya bagus banget pula! Salah satu lagunya yang saya suka adalah "I Won't Give Up" atau yang artinya "Aku Tidak Akan Menyerah". Nah, berikut adalah liriknya :

When I look into your eyes,
Saat kutatap matamu
It's like watching the night sky
Seolah sedang kupandangi langit malam
Or a beautiful sunrise,
Atau indahnya mentari terbit 
There's so much they hold 
Banyak arti dari dua hal itu
And just like them old stars,
Begitu pula bintang-bintang di atas sana
I see that you've come so far,
Kulihat t'lah kau tempuh perjalanan panjang
to be right where you are,
Tuk sampai di tempatmu kini berada
How old is your soul?
Berapakah umur jiwamu?

CHORUS:
I won't give up on us,
Takkan kuberhenti berusaha
even if the skies get rough
Meskipun langit mulai menghitam 
I'm giving you all my love
Kuberi kau seluruh cintaku
I'm still looking up
Aku masih tetap melangkah

And when you're needing your space
Dan saat kau ingin sendiri
to do some navigating
Untuk bertualang
I'll be here, patiently waiting,
Aku kan di sini, sabar menunggu
to see what you find.
Tuk melihat yang kau temukan

'Cause even the stars they burn,
Karena meskipun bintang terbakar
some even fall to the earth.
Bahkan ada yang jatuh ke bumiWe got a lot to learn.
Banyak yang kita pelajari
God knows we're worth it
Tuhan tahu kita layak menerimanya
No, I won't give up
Aku takkan menyerah
I don't want to be someone
Aku tak ingin menjadi seseorang
who walks away so easily
Yang pergi dengan mudahnya
I'm here to stay 
Aku akan tinggal
and make the difference that I can make
Dan membuat perbedaan
Our differences, they do a lot to teach us,
Perbedaan kita, banyak yang mereka ajarkan pada kita
how to use the tools and gifts we got,
Cara manfaatkan alat dan anugerah yang kita punya
yeah, we got a lot at stake 
Yeah, banyak yang kita pertaruhkan
and in the end you're still my friend.
Dan pada akhirnya kau kan tetap jadi temankuAt least we did intend for us to work.
Setidaknya kita berniat pertahankan hubungan kita
We didn't break, we didn't burn.
Kita tak patah arang, kita tak terbakarWe had to learn how to bend, 
Kita harus belajar menunduk, 
without the world, caving in.
Tanpa dunia ikut runtuh
I had to learn, what I've got 
Aku harus belajar, apa yang kupunya
And what I'm not and who I am.
Dan yang tak kumiliki dan siapa diriku

CHORUS

I'm still looking up.
Aku tetap melangkah

Well, I won't give up on us.
Aku takkan berhenti berusaha
(No, I'm not giving up.)
(Aku takkan menyerah)
God knows I'm tough, he knows.
Tuhan tahu aku kuat, Dia tahu.
(I am tough, I am love.)
(Aku kuat, aku adalah cinta.)
We got a lot to learn.
Banyak yang kita pelajari
(We're life, we are love.)
(Kita adalah hidup, kita adalah cinta)
God knows we're worth it.
Tuhan tahu kita layak menerimanya
(And we're worth it.)
(Dan kita layak menerimanya)

CHORUS

Nah, gimana? Keren kan? Lagunya bikin semangat lagi karena memberikan motivasi agar kita pantang menyerah! Kali ini sampai sini dulu ya! Sampai ketemu lagu! Bye! (^.^)/

Selasa, 04 Maret 2014

Love You In Paris (The City Of Love)


Hay Guys! Kali ini saya akan menceritakan sebuah cerita yang judulnya "Love You In Paris (The City Of Love)". Siapa sih yang gak tau Paris? Pasti semua udah tau dong jadi gak perlu dijelasin lagi deh hehehe...
Yuk kita lihat ceritanya, semoga kalian suka yang sama ceritanya ^^ selamat membaca! ^-^/

Pada suatu hari, dimana kota Paris sedang mengalami musim dingin dan turun salju, terlihat suasana yang sangat bahagia dimana anak-anak di Paris keluar rumah untuk bermain salju dengan riangnya. Tetapi, di satu sisi lain terlihan seorang gadis remaja yang bernama Jessica, yang sangat cantik, berambut pirang dengan rambut yang dikuncir satu, menggunakan pakaian lengkap musim dingin terlihat tidak menyukai saat turunya salju. Bukannya seharusnya dia bahagia menyambut datangnya salju? Tapi kok dia malah sebel ya? Kenapa sih dia?. Ternyata ia menganggap bahwa salju adalah suatu bencana yang telah menewaskan kedua orang tuanya. Pada saat 5 tahun lalu ketika salju turun di kota Paris, Jessica, Ibu, dan Ayahnya sedang berada di dalam mobil, hingga pada suatu saat salju turun dengan lebatnya sehingga jarak pandang menjadi berkurang. Ketika Ayah Jessica akan mengerem mobilnya ternyata tidak bisa berhenti dikarenakan jalanan yang licin dan mengakibatkan mobil yang dinaiki mereka tidak terkendali dan akhirnya menabrak sebuah truk yang sedang melintas, disana terjadi kecelakaan yang mengakibatkan Orang tua Jessica meninggal dan hanya ia yang selamat. Jessica selalu menangis apabila mengingat cerita masa lalunya yang mengerikan itu. "Aku benci musim dingin!" Ucap Jessica. Ia selalu tidak ingin keluar jika masih ada salju. Hingga pada suatu ketika, ia terpaksa keluar rumah untuk membeli kebutuhan makanannya. Denga terpaksa ia pergi keluar rumah, sampailah ia di sebuah SUPERMARKET. Setelah selesai berbelanja, ia membawa barang bawaannya sambil melamun. Dan ia menabrak seorang laki-laki. Semua barang yang ia beli pun jatuh berantakan. Ia membereskannya dengan perasaan yang sedih. "Kau, tidak apa-apakan? Maafkan aku ya?" Ucap laki-laki tersebut. ". " Ya, aku tidak apa-apa" dengan perasaan yang datar. kemudian laki-laki tersebut membantu Jessica membereskan barang bawaannya tersebut. Kemudian laki-laki tersebut mengajak Jessica minum kopi di sebuah cafe dan mereka berbincang-bincang . Dan ternyata nama laki-laki tersebut adalah Julian. Julian adalah laki-laki yang tampan, cerdas, dan ya pokoknya So Cool. Ternyata orang tua Julian telah meninggal semenjak ia masih bayi dikarenakan salju yang membuat orang tuanya meninggal dunia dan sekarang Julian tinggal bersama neneknya. Kok kejadiannya bisa sama ya? I don't know. Satu tahunpun berlalu, Jessica dan Julian pun semakin akrab sebagai sahabat, hingga pada saat turun salju kembali di kota Paris. Julian mengajak Jessica untuk bermain salju, tetapi Jessica menolak. "Kenapa? Salju sangat indah kok! kenapa kamu gak mau main salju? Kamu marah sama aku?" Tanya Julian. "Bermain salju adalah permainan anak kecil! Aku benci salju! Aku gak suka salju!" jawab Jessica dengan tegas. Julian merasa bingung dan kembali bertanya "Kenapa kamu gak suka salju?". "Salju sudah membuat kedua orang tuaku meninggal! Aku benci kamu! Aku juga benci salju!" Jawab Jessica sambil menangis. Jessica pun berlari menuju kerumah sambil menangis karena harus mengingat kejadian itu. Julian merasa menyesal. Satu minggupun berlalu, tiba saatnya Jessica harus pergi ke makam ayah dan ibunya, ya hari ini adalah hari dimana ayah dan ibu Jessica meninggal. Jessica menangis di kuburan ayah dan ibunya itu dan menceritakan semua yang terjadi. Setelah selesai dari kuburan, Jessica bertemu dengan Julian. Tanpa ragu-ragu Julian memberanikan diri bertemu Jessica sambul berkata "Aku minta maaf, aku juga kehilangan orang tuaku dikarenakan kecelakaan seperti orang tuamu. Tetapi bukan berarti kita harus membenci semua itu. Semuanya yang membuat kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk kita bukan berarti kita harus membenci semua hal itu, aku tau rasanya bagaimana kita kehilangan orang yang kita sayang. Kenapa kita tidak mencoba untuk untuk memaafkan hal tersebut? Buakankah semua itu takdir? Kita harus bersabar dalam menghadapi semua ini.". Dengan perasaan menyesal Jessica menangis dengan penuh penyesalan. Satu tahun pun berlalu, tiba hari dimana Jessica harus pergi ke makam ayah dan ibunya. Tetapi, ia tidak pergi sendirian. Ia datang bersama Julian kekasihnya. Ternyata ia tidak menyangka bahwa hari yang ia benci, malah mendatangkan kekasih yang sangat sayang kepadanya.

Senin, 03 Maret 2014

Aku Sayang Kamu

Saat hari itu, hari dimana Sinka seorang gadis yang cantik, baik hati, dan tidak sombong duduk sendirian di bangku taman sekolah sambil membaca buku. Setelah beberapa menit, datanglah laki-laki dengan wajahnya yang tampan dan penampilannya yang keren yang bernama Bastian, duduk disamping Sinka. "uhmmm... Sinka?" tanya Bastian. "Iya" respons Sinka. "Besok kamu ada acara gak?" lanjut Bastian. "Kayaknya gak ada. Memangnya kenapa?" jawab Sinka. "Aku mau ketemuan sama kamu di taman di perempatan jalan dekat sekolah besok pagi ada yang mau aku bicarain." ucap Bastian. "Ok, baiklah" jawab Sinka sambil tersenyum. Keesokan harinya, tepat di taman perempatan jalan dekat sekolah terlihat Bastian dengan penampilan kerenya memegang sebuah bunga mawar merah yang sangat indah. Tak lama kemudian, terlihatlah Sinka denga menggunakan dress berwarna merah dan rambutnya yang terurai dengan indahnya. Sambih ternganga melihat Sinka, bastian mencoba berbicara kepada Sinka tentang perasaannya pada Sinka. "Sinka, apa kamu mau jadi pacarku? Sebenarnya aku sudah lama suka denganmu." jawab Bastian. "Kenapa kamu suka denganku?" tanya Sinka. "Kamu baik, lucu, periang, cantik, dan kamu sangat peduli dengan teman-temanmu." jawab Bastian. "Tapi maaf ya, aku belum bisa ngasih jawaban. Aku butuh waktu." Jawab Sinka. "Baiklah aku akan menunggumu" kata Bastian. Sinka pun pergi dari taman dengan berlari, sambil menangis karena ia tahu ada orang lain yang sayang kepadanya. Dengan rasa kecewa ia menangis sambil terus berlari meninggalkan Bastian sendirian di taman. Ia ingin sekali menjadi pacar Bastian tetapi, ia tidak mungkin menerimanya karena penyakit serius yang di alaminya. 1 Bulan pun berlalu setelah Bastian menyatakan perasaannya kepada Sinka. Tetapi semenjak hari itu, Bastian sama sekali belum melihat Sinka. Dengan perasaan cemas Bastianpun bertanya kepada teman-teman Sinka, dan akhirnya terdengan suatu kabar bahwa Sinka mengidab penyakit kanker dan meninggal sejak 1 minggu yang lalu. Dengan perasaan sedih dan menyesal pun kini dirasakan oleh Bastian. " Sinka!Sinka!Sinka! Maafkan aku karena aku telah gagal menjagamu!" jerit Bastian. Hingga pada suatu hari, ia berjalan menuju taman tempat ia menyatakan perasaannya kepada Sinka. Di bangku tersebut terdapat sebuah buku diary yang tertulis nama Sinka. Buku tersebut di buka oleh Bastian, dan ternyata di dalam buku diary itu terdapat semua curuhan hati Sinka. Dan pada halaman terakhir buku diary tersebut terdapa cerita peristiwa tentang hari dimana Bastian mengungkapkan perasaannya. Di halaman tersebut terdapat kelopak bunga mawar yang di berikan oleh Bastian dan sebuah foto Bastian. Di lembaran tersebut tertulis "....maafkan aku Bastian, aku sayang kamu, aku ingin jadi pacar kamu, tapi aku gak bisa, umurku sudah tidak lama lagi Bas. Aku mohon kamu bisa ngertiin aku, aku juga sayang kamu. Aku Sayang Kamu Selamanya walaupun kita bukan jodoh di dunia ini tapi aku yakin kita akan berjodoh di akhirat nanti, karena aku yakin kamu adalah orang yang baik. Selamat Tinggal Bastian Aku Selalu Sayang Kamu...". Bastian membaca kalimat tersebut sambil menangis karena teringat akan Sinka.