Minggu, 17 Agustus 2014

Sahabat Tak Dianggap

  Pagi yang cerah mengawali hari ini. Aku pun merasa sangat bahagia. Tetapi entah apa yang merasuki hatiku, rasanya hatiku tidak secerah langit di pagi ini. Aku merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal dan yang ingin aku ketahui. Di saat teman-temanku bersenang-senang aku juga ikut senang, tapi hatiku tetap saja berkata lain.
  Pada saat itu, aku melihat seorang temanku yang akan bersiap-siap mengikuti sebuah lomba di sekolah kami. "Hay, Fin! Aku do'ain semoga kelas kita menang ya." dengan bahagianya aku mengucapkan kata-kata itu. Akan tetapi dia tidak merespon sama sekali. Fina tidak seperti biasanya. Fina yang aku kenal adalah orang yang sangat baik kepada ku dan dia adalah anak yang pintar. Dulu, kami sering bermain bersama sejak kelas 4 sd tetapi sejak kami mulai naik ke kelas 7 hubungan kami mulai memudar. Sekarang aku dan Fina sudah kelas 8. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Sungguh aku tidak mengerti sama sekali. 
  Pada saat lomba, aku pun selalu menyemangatinya tanpa terkecuali. Aku selalu memanggil-manggil namanya untuk selalu semangat. "Fina! Ayo Fina! Semangat! Kamu pasti bisa!" begitulah aku menyemangatinya. Dia pun menang lomba. Tapi, pada saat berjalan ke arahku dia sama sekali tidak memandangku. Bahkan ia pura-pura tidak melihatku sama sekali. Apakah aku hanya angin lalu baginya? Apa yang pernah aku lakukan padanya? Kenapa ia membenciku? Apa salahku?. Hal-hal itu selalu aku pikirkan bahkan menjadi sebuah tanda tanya besar di dalam hatiku. Aku sangat kecwa akan hal itu.
  Keesokkan harinya, aku mencoba untuk bicara padanya, :Hai, Fina. Selamat ya atas kemenangan kamu kemarin." ucapku pada Fina. Tetapi ia mengacuhkan aku dan langsung pergi dari hadapanku. "Fina! Apa sih salah aku? Apa? Ngomong dong! Ok, kalau aku punya salah aku minta maaf sama kamu! Apa sih, apa? Aku salah apa sama kamu? Tolong jawab, Fin" "Maaf Din, kamu gak punya salah apa-apa kok sama aku. Kamu itu anak baik, gak pantes main sama aku. Selamat tinggal." katanya dengan tidak ada penyesalan sama sekali."Ya Tuhan, aku salah apa? Kenapa sahabat baikku sendiri sampai bersikap dingin seperti itu." ucap dalam hatiku.  
  

1 komentar: