Senin, 18 Agustus 2014

Malaikat Tanpa Sayap


Add caption
  Tentu semua orang memiliki seorang ibu. Tentu sebagian orang pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Semua orang pasti pernah kesal pada ibu. Meskipun pernah sebel sama ibu pasti kita akan meminta maaf karena kita yang salah. Kalau dipikir-pikir, seorang ibu itu adalah orang yang paliiiiing baik. Tau gak kenapa? Soalnya ibu itu sebenarnya "Pahlawan Tanpa Pamrih". Ibu dikatakan sebagai pahlawan karena ibu telah memperjuangkan kita, mempertahankan kita, merawat, menyayangi kita sampai kita seperti sekarang ini. Tanpa pamrih karena seorang ibu tidak meminta balasan apa-apa kepada anaknya, walaupun anaknya sukses ibu tidak meminta bayaran apa-apa untuk membayar semua yang telah diberikan pada kalian meski kalian akan membayar semua jasa ibu uang kalian, harta kalian, kekayaan kalian tidak cukup membayar semua itu. Betul atau salah? Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah ditanya oleh sahabatnya "Siapa kah orang di dunia ini yang paling harus aku hormati?" kemudian nabi menjawab "ibu". Sahabat nabi itu pun bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama, tetapi jawaban nabi pun tetap sama yaitu Ibu. Sahabat itu pun bertanya lagi, dan jawabannya tetap Ibu. Untuk ke empat kalinya sahabat itu bertanya dan kali ini nabi menjawab berbeda yaitu Ayah. Kurang lebih seperti ini lah jawaban nabi "Ibu,Ibu,Ibu,Ayah, dan orang yang dekat denganmu,". Subahanallah, kata Ibu bahkan diucapkan diucapkan nabi sebanyak tiga kali baru ayah satu kali kemudian orang lain yang dekat dengan kalian. Seorang Ibu adalah sebuah anugerah bagi kita. Bahkan, do'a yang akan dikabulkan oleh Allah salah satunya adalah do'a kedua orang tua. Mungkin kita pernah berpikir ibu kita jahat karena tidak membelikan kita suatu barang seperti yang kita inginkan. Tetapi kita juga harus mengerti posisi ibu yang mungkin sedang tidak punya uang atau mungkin ibu memikirkan dampak barang yang kita inginkan. Misalnya Gadget, mungkin ibu berpikir bahwa jika saya belikan anak saya gadget anak saya akan jadi malas belajar dan lebih memilih bermain gadget dari pada bersosialisasi dengan teman-temannya dan juga mungkin dia akan jadi pemalas. Mungkin loh mungkin. Sebenarnya ada benarnya juga lohh. Bukan hanya ibu yang harus mengerti kita tetapi kita juga harus mengerti ibu, jadi kita semua saling mengerti. Ayo yang punya salah atau lagi berantem sama ibu ayo gih cepetan minta maaf.

Semoga Bermanfaat ^^

Minggu, 17 Agustus 2014

Sahabat Tak Dianggap

  Pagi yang cerah mengawali hari ini. Aku pun merasa sangat bahagia. Tetapi entah apa yang merasuki hatiku, rasanya hatiku tidak secerah langit di pagi ini. Aku merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal dan yang ingin aku ketahui. Di saat teman-temanku bersenang-senang aku juga ikut senang, tapi hatiku tetap saja berkata lain.
  Pada saat itu, aku melihat seorang temanku yang akan bersiap-siap mengikuti sebuah lomba di sekolah kami. "Hay, Fin! Aku do'ain semoga kelas kita menang ya." dengan bahagianya aku mengucapkan kata-kata itu. Akan tetapi dia tidak merespon sama sekali. Fina tidak seperti biasanya. Fina yang aku kenal adalah orang yang sangat baik kepada ku dan dia adalah anak yang pintar. Dulu, kami sering bermain bersama sejak kelas 4 sd tetapi sejak kami mulai naik ke kelas 7 hubungan kami mulai memudar. Sekarang aku dan Fina sudah kelas 8. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Sungguh aku tidak mengerti sama sekali. 
  Pada saat lomba, aku pun selalu menyemangatinya tanpa terkecuali. Aku selalu memanggil-manggil namanya untuk selalu semangat. "Fina! Ayo Fina! Semangat! Kamu pasti bisa!" begitulah aku menyemangatinya. Dia pun menang lomba. Tapi, pada saat berjalan ke arahku dia sama sekali tidak memandangku. Bahkan ia pura-pura tidak melihatku sama sekali. Apakah aku hanya angin lalu baginya? Apa yang pernah aku lakukan padanya? Kenapa ia membenciku? Apa salahku?. Hal-hal itu selalu aku pikirkan bahkan menjadi sebuah tanda tanya besar di dalam hatiku. Aku sangat kecwa akan hal itu.
  Keesokkan harinya, aku mencoba untuk bicara padanya, :Hai, Fina. Selamat ya atas kemenangan kamu kemarin." ucapku pada Fina. Tetapi ia mengacuhkan aku dan langsung pergi dari hadapanku. "Fina! Apa sih salah aku? Apa? Ngomong dong! Ok, kalau aku punya salah aku minta maaf sama kamu! Apa sih, apa? Aku salah apa sama kamu? Tolong jawab, Fin" "Maaf Din, kamu gak punya salah apa-apa kok sama aku. Kamu itu anak baik, gak pantes main sama aku. Selamat tinggal." katanya dengan tidak ada penyesalan sama sekali."Ya Tuhan, aku salah apa? Kenapa sahabat baikku sendiri sampai bersikap dingin seperti itu." ucap dalam hatiku.